Pages

Rabu, 09 September 2015

Larilah!

Lihatlah bentengku yang telah diporak-porandakan
Semua temboknya sudah runtuh rata dengan tanah
Jadi, sudahkah kau bisa melihat dirimu tertawan di dalamnya?

Kau boleh lari
Tembokku sudah runtuh
Aku bilang kau boleh lari
Kau tunggu apa lagi?
Aku tak berdaya di sini
Kau boleh lari!

Untuk apa kau hancurkan bentengku hanya untuk melihatmu di sini?

Minggu, 06 September 2015

Sepi

Tadi malam ada yang menghampiriku. Mengetuk-ngetuk pintu dengan ritme yang bisu. Kubukakan pintu. Ia terhuyung lesu, meletakkan dagunya di bahuku. Tubuhnya dingin, sayap-sayapnya membeku, urat-uratnya membiru. Kini akupun ikut membeku, karena sedari tadi ia memelukku. Erat membelenggu. Ia selalu menghampiri, di saat-saat seperti ini, tak ingin aku pergi. Aku tak mengerti mengapa ia selalu ingin ditemani atau justru ingin menemani? Tapi pelukannya selalu saja membuatku nyeri. Namanya sepi.

Rabu, 02 September 2015

Terik, Angin Sepoi, Dan Rindu yang Menggelayut

Masih ingatkah kau pada terik yang menyengat
Kala kau melambai
Membuai senyuman

Masih akrabkah kau dengan sepoi angin musim panas
Kala kau mengajak
Menuai kenangan

Kenapa tidak kau coba
Untuk sekali dua kali
Merindu pada terik dan sepoi angin
Yang memupuk hati kita?