Tadi malam ada yang menghampiriku. Mengetuk-ngetuk pintu dengan ritme yang bisu. Kubukakan pintu. Ia terhuyung lesu, meletakkan dagunya di bahuku. Tubuhnya dingin, sayap-sayapnya membeku, urat-uratnya membiru. Kini akupun ikut membeku, karena sedari tadi ia memelukku. Erat membelenggu. Ia selalu menghampiri, di saat-saat seperti ini, tak ingin aku pergi. Aku tak mengerti mengapa ia selalu ingin ditemani atau justru ingin menemani? Tapi pelukannya selalu saja membuatku nyeri. Namanya sepi.
Minggu, 06 September 2015
Sepi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar