Pages

Rabu, 26 Agustus 2015

Daisy

Pagi itu suasana di sekitarku lengang, hanya beberapa yang lalu-lalang. Tak ramai seperti biasanya. Semalam hujan mengguyur kota, mungkin manusia-manusia itu sedang tidak ingin tersentuh udara pagi yang tak sehangat biasanya. Sedangkan, aku yang sepanjang hari diterpa panas dan hujan hanya bisa diam di sini. Di sudut jalan kota ini.
 
Sudah terlalu biasa aku menghabiskan menit-menitku dengan harapan yang tak kunjung terdengarkan. Setidaknya, aku ingin dirawat dan diperhatikan sebelum masa usiaku habis. Aku tak pernah meminta untuk ditumbuhkan di sini. Sesekali, aku bersyukur karena masih ada anak-anak manusia yang ingin membawaku pulang. Namun, harapanku selalu pupus. Seperti tadi pagi.
 
“Ibu, bunga itu indah. Bolehkah aku merawatnya?”

“Tidak usah nak, kita bisa menanam yang lebih bagus di rumah.”
 
Mungkinkah suatu saat nanti ada yang benar-benar ingin merawatku? Mungkinkah akan datang seseorang yang bisa menganggapku lebih dari semak belukar?

Musim hujan telah benar-benar datang. Aku tak mengerti bagaimana cara untuk melindungi mahkotaku yang semakin rapuh ini. Walaupun aku masih putih dan tegak, tak lama lagi pasti akan layu juga. Jalan di depanku semakin basah, air hujan menggenang di mana-mana. Aku tak jarang terkena cipratan air saat kendaraan-kendaraan manusia itu lewat. Tanah tempatku berpijak juga semakin berlumpur.

Tuhan, apakah aku akan mati dalam keadaan seperti ini?

***

Aku merasa lemah pagi ini, mungkin karena akar-akarku terlalu lama terendam dalam lumpur. Atau mungkin waktuku sudah tak lama lagi. Pagi ini jalanan kembali sepi, tak ada anak-anak manusia berlarian atau sekedar berjalan di tepian jalan ini.

Mentari terlihat masih malu-malu menampakkan cahayanya. Aku tepat sedang akan menengadahkan daunku saat tiba-tiba seorang pemuda memperhatikanku. Aku was-was, takut apabila dia akan menyakitiku. Namun semuanya diluar dugaanku, dia membawaku pulang.

Sebagian akarku putus, terasa sakit, walaupun begitu aku merasa senang. Sekarang, aku berada dalam ruangan hangat dekat jendela. Aku ditanam kembali di pot bersih. Aku merasa kuat lagi.

***

Sudah dua hari aku di sini, sudah sekian lama itu pula aku tak pernah mendengar pemuda itu berbicara. Baru-baru ini, aku mengerti, sepertinya dia hanya sendirian di rumah. Rumah ini lumayan besar, dinding dan perabotnya berwarna putih seperti makhkotaku. Tertempel beberapa gambar wajah manusia di dindingnya. Namun, di manakah manusia-manusia itu jika mereka benar-benar tinggal di sini?

Awan tebal kembali menggantung di langit. Pemuda itu baru pulang entah dari mana. Wajahnya pucat, kedua matanya sembab, pakaiannya telah lencu dan ternoda dengan lumpur. Sorotan matanya kosong, mungkin sekosong rumah ini. Aku melihatnya masuk ke ruangan lain. Ruangan itu terletak di salah satu sudut rumah ini, aku selalu mencium bau yang aneh dari ruangan yang tak pernah dipadamkan lampunya itu. Bukan bau sepertiku maupun manusia.

Disela suara-suara air jatuh, aku mendengar gumaman pemuda itu dari dalam kamar di sudut rumah, tak jelas apa yang dikatakannya. Kadang pemuda itu bersuara seperti anak kecil yang sedang menangis. Semalaman aku mendengar suara itu timbul tenggelam bersama suara hujan yang kian deras.

Sudah dini hari saat hujan mulai mereda, suara pemuda itu pun juga telah lenyap. Mungkin dia tertidur atau telah lelah. Sunyi. Aku tak mengerti mengapa rumah ini diliputi sesuatu yang muram, entah apa itu. Terlihat kamar di sudut ruang masih terang dan tetap menebarkan aroma yang tak kumengerti. Bahkan pemuda itu lupa untuk mematikan lampu ruang tengah, aku sampai tak bisa untuk sekedar mengistirahatkan daun-daunku hingga fajar kembali tampak.

***

Beberapa manusia berpakaian serba coklat tiba-tiba datang mendobrak pintu rumah putih ini, tiba-tiba pemuda itu keluar dari kamar dengan membawa benda tajam di tangannya, pemuda itu tampak gusar dengan kedatangan manusia berpakaian serba coklat itu. Mereka saling berteriak dan ketika manusia-manusia berpakaian serba coklat itu lebih mendekat lagi, pemuda itu mengarahkan benda tajam bukan pada manusi-manusia coklat itu, tapi pada dirinya sendiri. Dan sedetik kemudian cairan berwarna merah sudah membasahi baju putih lencunya.

Mengapa aku harus melihat hal seperti ini?

Selang beberapa waktu kemudian, manusia berpakaian serba coklat itu masuk ke ruangan di mana bau-bau aneh itu berasal dan keluar dengan membawa mayat-mayat manusia yang wajahnya tampak seperti di dalam foto-foto yang ada di dinding rumah ini.

***

Keesokan harinya rumah ini dipenuhi manusia-manusia berpakaian hitam. Semuanya berwajah murung dan sebagian terisak-isak. Aku hanya termenung di sini menunggu mati, semenjak pemuda itu mati, siapa lagi yang akan peduli padaku? Tak ada manusia yang menyiramiku semenjak kemarin.

Tiba-tiba ada gadis yang mendatangiku, mungkin sebaya dengan pemuda itu. Sambil menahan tangisnya, dia berkata padaku, “Ternyata itu karena kau, bunga kecil yang bodoh. Bagaimana bisa dia membunuh semua orang yang harusnya ia sayangi hanya karena bunga sepertimu. Mungkin aku yang bodoh, karena aku berbicara dengan bunga, bodoh sekali. Aku tahu mimpinya hancur didepan mataku sendiri, keluarganya tak membolehkannya menanam bunga sepertimu, mereka bilang laki-laki tak pantas menyukai hal yang seharusnya disukai wanita. Tapi dia membantah semuanya, dia mulai menanam bunga sepertimu di pekarangan rumah ini beberapa hari yang lalu, dia ingin menjadi petani bunga katanya. Tapi ketika ayahnya mengetahui hal ini, langsung saja orang tua itu mengambil golok dan menghancurkan bunga-bunga itu di depan mata kepalanya sendiri. Dia masih bisa bercerita kepadaku beberapa hari yang lalu, dia tak ingin menjadi pewaris perusahaan keluarganya karena dia lebih memilih kau.”

Aku langsung setengah membeku mendengar hal itu, gadis itu kemudian pergi dan kembali dengan air di tangannya. Lalu beberapa saat kemudian ia membawaku pergi entah ke mana. Selang beberapa waktu sampailah aku dan gadis itu di suatu tempat, banyak manusia di sana, manusia yang sama dengan yang ada di rumah tadi. Setelah manusia-manusia itu pergi, tinggallah aku dan gadis itu saja di tempat itu. Gadis itu berkata, “Temanilah dia di sini, mungkin hanya kau yang bisa membuatnya tenang.” Lalu gadis itu mecabut aku dari potku dengan hati-hati dan menanamkannya di permukaan tanah lain, manusia biasa menyebut tanah ini dengan sebutan pemakaman, dan ini adalah makam pemuda itu.

Begitulah hidupku, sejak saat itu hingga kini, pemuda itu memberikan sisa-sisa kehidupannya untukku. Sebagian dariku adalah dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar